SIANG ITU kelas agak gaduh. Keramaian bak suasana pasar memang sering terjadi di kelas yang dihuni anak-anak yang biasa belajar ilmu-ilmu serius (eksakta). Tapi kegaduhan yang terjadi pada hari Rabu, usai pelajaran bahasa Inggris sungguh bermakna bagi semua siswa. Tak terkecuali di bangku deretan sebelah kiri, ya kalau dari sisi pak/ibu guru sebelah kanan. Usai menerima hasil ulangan, dan kata-kata umpatan pun sudah terlalu banyak terlontar, di tengah kegaduhan ada pembicaraan yang agak serius. Antara aku dan teman sebangkuku, Nuki Imam Perkasa (Nuq).
Sebenarnya pembicaran inisial kelas sudah berlangsung sebelum hari itu, dan sepertinya ada beberapa nama yang diusulkan oleh beberapa teman. Namun, mungkin karena teman yang lain terlalu serius dengan pelajaran atau memikirkan suasana hatinya saat itu, akhirnya hanya Nuki dan aku dan beberapa teman saja yang agak intens dengan masalah nama inisial kelas ini. Entah apa yang menjadi alasan saat itu, sepertinya inisial kelas menjadi sangat penting. Mungkin dipicu dengan akan dibuatnya kaos. Seingatku, kaos kelas ini menjadi penting karena saat itu ada jadwal senam bersama (hari Jumat) di sekolah. Seperti diketahui bersama, hari Jumat pihak sekolah membebaskan siswa mengenakan pakaian bebas dan senam pagi. Bagiku, hari Jumat menjadi hari favorit.
Dan untuk desain tulisan pada kaos maka inisial kelas perlu ada, kurang lebih seperti itu.
Aku sendiri saat itu memiliki usulan nama Pysanpov (Physic one andasa dipovidya...tulisannya benar gak ya). Nama ini terlihat asing, tapi mudah diingat. Pada saat itu aku sangat gemar dengan hal-hal yang berbau Uni Soviet yang runtuh pada tahun 1991 (hehehe..walau masih sekolah saat itu aku sudah melek dengan dunia politik internasioan lho), sementara banyak orang menggemari hal-hal berbau Amerika Serikat. Buktinya, gang-gang anak muda waktu itu banyak memakai idiom-idiom Amerika, misal Texas, dll (eiitt..kok ngomong ngalur-ngidul). Pysanpov kependekan dari Physic one Andasa Dipovidya (tulisannya bener gak ya, soalnya kucari di web gak ada). Saat itu, Nuki menyodorkan nama Schizo, sebuah kata kependekan dari Schizophrenia yang artinya seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Selain menyodorkan nama, Nuki juga membuat desain tulisan..yang sangat mengesankan. Tidak ada perdebatan ngalur-ngidul saat itu, aku menyetujui saja apa yang diusulkan Nuki itu. Alsanaku, karena Nuki mengambil nama itu dari salah satu album Sepultura (grup band thrash metal asal Brazil yang saat itu sangat terkenal..aku anak metal lho..).
Entah ada yang tidak setuju, yang pasti pada hari itu teman-teman sekelas menyetujuinya. Dan nama itu kemudian diabadikan dalam kaos.
Saat menulis ini, kaos Schizo berwarna hijau kaki ada di sampingku. Kondisinya sudah tidak seperti saat Aku, Nuki, Basuki, dan Ratri baru saja mengambil di Jalan Erlangga. Tapi dengan melihat kaos yang masih kupakai itu, walau agak jarang, selalu mengingatkan pada keceriaan dan mimpi-mimpi indah tentang masa depan: ada yang ingin menjadi ahli nuklir, arsitek, dan lain lain. Hmm...nge-es krim dulu ah (sambil membayangkan makan es pong-pong di rumahku usai kami mengambil kaos C 59).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar